14 Jan 2012

Last Rain


Membiarkan hujan membasahi kita

Dan akhirnya membiarkan hujan hanya membasahiku

"Kakakkkk, sudah dijemput tuh." Teriak seorang gadis kecil dengan ramput sebahu, berwarna pirang. Sambil merapikan dasinya, dia mempersilahkan seorang pemuda dengan seragam putih abu-abu khas siswa SMA. Pemuda itu tinggi, dan dengan kulitnya yang putih sudah dipastikan banyak wanita yang mengidamkannya untuk dijadikan kekasih. Ia duduk di sofa tamu berwarna putih yang begitu elegan, dan menunggu kakak dari gadis kecil tadi untuk datang menemuinya.
"Hei, maaf ya bikin kamu nunggu lama." Seorang gadis dengan rambut panjangnya yang diikat satu tinggi-tinggi, menepuk pundak pemuda itu. Dan pemuda itu menoleh kearahnya dengan tatapan lembut.
"Ayo, berangkat sekarang." Ujar pemuda itu, sambil menarik tangan gadis berambut panjang tersebut.
Gadis itu adalah Jessica. Dengan rambut panjangnya yang tidak pernah dibiarkannya terurai, ia mungkin terlihat sedikit tomboy. Tapi jika sudah dekat dengannya semua orang pasti dapat melihat sisi feminimnya. Ia hobi membaca novel romantis, membaca komik manga, dan sangat suka dengan boyband-boyband asal korea, yang terkenal karena wajah yang tampan-tampan. Bahkan ketika SMP ia mengikuti les balet. Tak ada yang tahu tentang itu.
Jessica mulai mengeluarkan ipod-nya dari dalam tas, dan mendengarkan sebuah lagu. Dia tak ingin merasa bosan pada saat-saat berdua dengan pemuda yang ada disebelahnya ini di dalam mobil. Pemuda pendiam yang ada di sebelahnya ini adalah kekasih Jessica. Terkadang ia ilfeel karena pemuda ini tidak pernah memulai duluan pembicaraan. Tapi tenyata hal yang berbeda terjadi hari ini.
"Boyband lagi??" Pertanyaan singkat pemuda itu sontak membuat Jessica berbinar. Jarang sekali dia mendengar Jeremy, nama pemuda itu, bertanya tentang hal yang tidak terlalu penting atau sekedar basa-basi seperti ini.
"Hmm , enggak lagi. Mau ikut denger ??" Jessica terlihat semangat saat menanyakan hal itu pada Jeremy. Sudah lama ia ingin mendengar lagu ini bersama Jeremy.
"Boleh." Dengan cepat Jessica memberikan salah satu bagian headseatnya kepada Jeremy. Dan sebuah lagu mengalun lembut. Lagu yang berjudul Kiss Me Slowly , salah satu lagu favoritenya dari band Parachute. Lagu itu bagaikan mempersatukan indra pendengeran mereka dengan satu alunan nada, didalam keheningan didalam mobil saat perjalanan mereka bersama menuju kesekolah pagi itu.
Sekolah tinggal beberapa meter lagi, dan Jessica sudah bersiap untuk turun. Hingga akhirnya Jeremy memarkirkan mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Jessica. Jessica turun dengan anggun sambil menggendong tas punggung birunya. Dan Jeremy membawa tasnya dengan satu lengan. Mereka berjalan bersama menyusuri koridor, sambil diiringi tatapan iri gadis-gadis baik senior maupun junior yang sepertinya menaruh hati pada Jeremy. Awalnya Jessica merasa minder, tapi ia berusaha membangun rasa percaya diri. 'Jeremy sudah milikku sejak 6 bulan terakhir, aku tak harus minder. Jeremy sudah jelas akan tetap memilihku, dibanding gadis-gadis lain yang menatap kami dengan pandangan iri hari ini.' Jessica mulai memotivasi dirinya sendiri agar tidak minder. Ia terus menatap lurus sambil sebentar-sebentar menoleh ke Jeremy yang berjalan dengan tenang, sedangkan dirinya daritadi gugup bahkan ia baru menyadari bahwa tagannya kini basah dengan kringat. Jeremy yang menyadari hal itu menoleh kearah Jessica dengan raut khawatir.
"Kamu sakit ?"
"Ah, enggak. Kenapa?" Jessica mencoba menjawab dengan tenang , dan berusaha menutupi rasa gugupnya.
"Tangan mu basah." Jeremy menjawab dengan singkat, lalu mengusap tangan Jessica dengan tangannya.
"Tenang , aku tak apa." Ujar Jessica lalu masuk ke kelasnya, dan meninggalkan Jeremy berjalan sendiri menuju kelasnya yang tinggal kurang lebih 20 langkah lagi.
'kenapa dia?' Dengan wajah bingung Jeremy menuju kelasnya dengan berjalan cepat, karena bel masuk kelas tinggal beberapa detik lagi.
***
Bel pulang sekolah sudah berdering sejak 10 menit yang lalu. Tapi Jessica masih belum menemui Jeremy yang sejak tadi menunggu Jessica didepan mobilnya. Gadis itu termenung di kelasnya sambil memegang sebuah novel yang sudah berkali-kali dibacanya sejak pertama kali ia membeli novel itu 2 tahun yang lalu. Novel berjudul AI dari penulis favoritnya Winna Efendi. Ia lalu mengambil Handphone-nya dan kecewa, ternyata Jeremy tak menanyakan keberadaannya. Ia tetap termenung disana sambil berharap Jeremy datang menjemputnya ke kelas. Tetapi disisi lain Jeremy ternyata masih menunggu Jessica di depan mobilnya dengan sabar, sampai akhirnya Jeremy mulai mencari Jessica ke kelasnya.
"Dear..." Ucap Jeremy , yang berhasill membuyarkan lamunan Jessica. Jessica segera beranjak dari kursinya, mengambil tas dan membawanya dengan satu lengan, lalu mendekat ke Jeremy.
"Oh , kamu pengen dijemput yaa ?" Jeremy tertawa pelan. Dan Jessica membalasnya dengan senyuman kecil. Lalu mereka berjalan berdampingan ke mobil Jeremy , dan masih seperti biasa diikuti tatapan iri para gadis.
Jessica tak berbicara sama sekali di dalam mobil. Ia hanya sesekali melirik ke arah Jeremy , yang daritadi juga tidak berkata sepatah katapun semenjak mereka masuk kedalam mobil. Mereka tetap dalam keadaan sperti itu sampai akhirnya Jessica sampai dirumahnya.
"Terima kasih." Ucap Jessica setelah Jeremy membukakan pintu untuknya. Lalu bergegas masuk kedalam rumah. Tetapi langkahnya terhenti ketika tangan Jeremy menahannya.
"Jika ada yang membuatmu tidak nyaman segera katakan, aku tak ingin sikapmu seperti hari ini lagi." Jessica mengangguk kecil. Sepertinya Jeremy sudah menyadari perubahan sikap Jessica sejak awal.
***
Esoknya hujan turun dengan derasnya, Jessica sudah menunggu Jeremy diteras rumahnya. Dan beberapa detik kemudian Jeremy datang. Jessica langsung masuk kemobil, dan memasang sabuk pengamannya. Lalu ia mulai mengeluarkan ipodnya. Tapi tiba-tiba Jeremy melarangnya.
"Dear, jangan mendengarkan lagu dulu. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan." Ujar Jeremy sambil memandang wajah Jessica lekat-lekat. Tapi Jessica memalingkan wajahnya.
"Aku tak ingin membicarakan apapun pagi ini." Jessica berkata dengan pelan. Sesungguhnya dia takut melukai perasaan Jeremy.
"Baiklah, aku tidak memaksa." Jeremy lalu mengemudikan mobilnya sedikit lebih cepat.
***
Jessica mempercepat jalannya, karena gadis itu sudah tak tahan lagi dengan tatapan iri yang selalu mengikutinya saat ia bersama Jeremy. Jeremy mau tak mau ikut mempercepat langkahnya. Dan akhirnya mereka tiba di depan kelas Jessica.
"Pulang sekolah nanti kamu tunggu saja dikelas , aku akan menjemputmu." Ucap Jeremy sambil menepuk pelan pipi Jessica. Dan gadis itu hanya mengangguk. Lalu masuk kedalam kelas.
Selama pelajaran berlangsung, Jessica tidak bisa berkonsentrasi. Yang ada dipikirannya adalah apa yang akan ditanyakan Jeeremy padanya pulang sekolah nanti. Ia mulai menebak nebak dan memikirkan jawaban yang tepat. Gadis itu mencoba-coba mencari jawaban bohong yang masuk akal dan tidak akan membuat Jeremy tersinggung. Tapi dia tak dapat menemukan jawaban bohong apapu diotaknya. Hingga akhirnya ia bertekad, apapun yang ditanyakan Jeremy, ia akan menjawabnya dengan jujur.
***
Akhirnya bel pulang sekolah berdering juga. Dan Jeremy sudah siap mengajak Jessica kesuatu tempat, agar mereka punya waktu untuk berdua dan membahas tentang hubungan mereka yang menurut Jeremy merenggang. Pemuda itu segera menuju ke kelas Jessica , dan gadis yang ia cari telah menunggu didepan kelas.
"Ayo, kita pergi sekarang."
"Kemana ?" Tanya Jessica dengan ekspresi bingung.
"Ke suatu tempat , dimana kita bisa berdua lebih lama."
Mereka berdua lalu berjalan dengan berpegangan tangan , dan tentu saja diikuti tatapan iri gadis gadis yang berlipat ganda. Menyadari hal itu Jessia menundukkan kepalanya, tetapi Jeremy yang sedaritadi tetap tenang dan menyadari Jessica minder mulai melingkarkan salah satu lengannya dipinggang Jessica.
"Tenang saja, aku melindungimu." Bisik Jeremy lembut ditelinga Jessica.
Jessica merasa sedikit tenang, dan ia berjalan terus sambil menyandarkan kepalanya di dada Jeremy. Gadis itu merasa lemas setiap kali ia dipandang dengan tatapan iri seperti itu. Mereka berdua langsung masuk ke mobil dan Jeremy segera mengarahkan mobilnya menuju ke Taman Kota.
"Turun dear." Ucap Jeremy setelah membukakan pintu untuk Jessica. Jessica turun lalu menghirup udara segar pepohonan yang baru saja terguyur air hujan. Merekapun mencari tempat untuk duduk. Dan akhirnya mereka duduk disebuah bangku sambil menatap kearah taman. Jeremy merangkul tubuh gadis disebelahnya, dan membelai helai-helai rambutnya dengan lembut.
"Dear, aku tau kamu selalu tidak nyaman saat aku berada disampingmu ketika disekolah." Jeremy mulai angkat bicara.
"Ya, aku memang merasa begitu , tapi aku berusaha untuk nyaman. Karena aku percaya kamu mencintaiku."
"Tentu saja, aku mencintaimu. Dan mulai besok aku akan melindungimu, dan merangkulmu. Kau boleh menyembunyikan wajahmu didadaku, aku akan melawan tatapan mereka semua."
Jessica tersenyum lega. Lalu ia mengambil ipodnya dan memutar lagu yang sama seperti saat ia mendengarkan lagu di mobil bersama Jeremy. Hanya saja saat ini ia tak mendengarkannya melalui headseat.
Langit semakin lama semakin tertutup awan gelap, dan hujan grimis mulai turun. Jeremy tampak tak menghiraukannya, begitu juga Jessica. Mereka tetap duduk sambil menikmati alunan lagu.
"Jessica." Panggil Jeremy, dan hal itu membuat Jessica kaget. Karena jarang sekali Jeremy langsung memanggil namanya seperti itu. Jessica menoleh dan mendapati Jeremy hanya berada 2 cm dari wajahnya. Jeremy mendekatkan kembali wajahnya dan mengecup bibir Jessica dengan lembut. Gadis itu tak bisa menolak. Hujan turun semakin deras dan membasahi badan mereka yang masih terbalut seragam putih abu-abu. Jessica tertawa sebentar, diiringan senyuman lembut Jeremy. Lalu Jeremy melanjutkan kecupannya yang sempat terhenti karena tawa kecil Jessica.
***
Hari demi hari , bulan demi bulan beralalu dengan cepat. Dan saat ini Jessica sudah benar-benar bisa percaya diri menghadai tatapan iri para gadis junior. Mereka, Jessica dan Jeremy kali ini sudah kelas tiga SMA. Dan Jessica senang , karena sebentar lagi mereka sudah bisa masuk ke perguruan tinggi.
"Aku tak sabar untuk kuliah." Ujar Jessica bersemangat.
Sore itu mereka sedang berada disebuah cafe di pinggiran ibu kota. Sambil menikmati cappucino-nya Jessica terus berbicara mengenai, kuliah , fakultas dan baju-baju berkerah yang akan dipakainya saat kuliah nanti.
"Aku juga tak sabar melihatmu memakai baju casual. Selama ini aku bosan melihat bajumu yang hanya seragam."
"Ah , dasar kamu ini." Jessica tertawa ringan sambil menghirup aroma cappucino hangat didepannya.
Akhirnya waktu juga yang harus menghentikan obrolan mereka, karena hari sudah gelap dan jika gadis itu pulang terlalu larut orang tuanya akan marah.
Sesampainya dirumah , Jessica mengecup pipi Jeremy dan Jeremy membalasnya dengan hal yang sama.
"Besok jangan telat bangun ya." Ujar Jeremy sambil tersenyum
"Iya , aku berjanji." Jawab Jessica dengan mata berbinar, sambil menepuk pipi Jeremy pelan. Lalu gadis itu melambaikan tangannya dan masuk kedalam rumah.
***
Pagi sudah datang, dan Jessica seperti biasa sudah menunggu kekasihnya diteras rumah. Tapi hingga pukul 8 Jeremy belum muncul juga. Ia terus menelpon Jeremy tapi tak ada jawaban. Hingga akhirnya sbuah no tidak dikenal mengiriminya sebuah pesan singkat.
Ke Rumah Sakit Medistra. Sekarang.
Tanpa pikir panjang Jessica segara memanggil sopir keluarga untuk menuju rumah sakit. Gadis itu merasa sesak dibagian dadanya, ia merasa sesuatu yang buruk terjadi pada Jeremy.
Dan akhirnya, semua perasaan takutnya selama perjalanan terbayar sudah dengan berita kepergian Jeremy. Kakinya lemas, gadis itu tak sanggup berkata apapun lagi. Apalagi ketika Jeremy yang sudah tak bernyawa berbaring dan lewat didepannya.
"Maafkan, anak kami Jess, ia tak pernah bermaksud meninggalkanmu. Kecelakaan itu sudah takdir tuhan." Kata orang tua Jeremy sambil menepuk pundak Jessica.
Jessica hanya dapat terdiam sambil berlinang airmata. Tak menyangka bahwa hal itu menimpa kekasihnya.
Pemakaman berlangsung bebearapa hari setelah kejadian naas itu , dan selama itu pula Jessica tak pernah mau makan , dia bahkan tak ingin masuk sekolah lagi. Semua orang dirumahnya tak tau harus berbuat apa. Upacara pemakaman Jeremy diiringi hujan gerimis. Gadis itu tau , dunia pun menangis ketika Jeremy harus pergi begitu saja.
Butuh waktu berminggu-minggu bagi Jessica untuk memulihkan keadaan jiwanya yang selama ini terus terpaku pada kenangan-kenangan indahnya bersama Jeremy. Ia baru mau makan dengan teratur setelah 3 minggu setelah kepergian Jeremy. Dan baru mau sekolah 4 minggu setelah kepergian sang kekasih.
Dan pada suatu siang, sepulang ia dari sekolah. Gadis itu meminta supir keluarga untuk mengantarkannya ke taman kota. Dan saat supirnya bertanya mau apa dia kesana. Jessica hanya berkata "Bertemu Jeremy."
Sesampainya disana Jessica duduk disebuah bangku yang disana terdapat serpihan kenangan Jeremy. Gadis itu memutar sebuah lagu dari Ipodnya. "Kiss Me Slowly". Lalu ia menggumam "Dear, datanglah sebentar, aku merindukanmu." dan memejamkan matanya.
Tiba-tiba Jessica merasa ada yang menepuk pipinya pelan.
"Bukalah matamu dear."
Jessica membuka matanya perlahan, dan mendapati Jeremy telah ada didepannya. Dengan seragam putih abu-abu lengkap dengan dasinya. Gadis itu langsung menyambutnya dengan pelukan.
"Aku tau kau ada disini." Jessica berkata sambil mengusap setetes airmata yang jatuh membasahi pipinya.
"Dear, aku tak mau kamu terus sedih. Kamu ingat kan impian masuk universitas." Jessica mengangguk tanpa memalingkan sedikitpun pandangannya dari wajah Jeremy.
"Boleh aku datang kesini setiap hari ??"
"Boleh , tapi aku tak menjamin kamu akan bertemu denganku." Jessica muram mendengar pernyataan Jeremy. Jeremy kembali menepuk pipi Jessica pelan. Lalu diiringi hujan yang semakin deras mengguyur taman kota hari itu bayangan Jeremy mengecup bibir Jessica lembut. Gadis itu menutup matanya, dan beberapa detik kemudian Jessica merasakan kehangatan yang tadi ia rasakan menghilang, ia membuka matanya dan sudah tak menemukan sosok Jeremy lagi. Dan membiarkan hujan mebasahinya untuk beberapa saat.
Jessica , berusaha tegar. Ia begitu berterima kasih pada Jeremy telah menyempatkan diri untuk datang. Gadis itu meninggalkan sebuah bunga mawar putih di bangku itu dan beranjak pulang.
Hari ini dia mengerti, Jeremy sangat menyayanginya. Dan ia berjanji tidak akan melupakan Jeremy. Jeremy selalu hidup dalam hatinya. Dan namanya tak akan pernah bisa pudar.
"Jeremy, I Love You."

2 lovely comment ♥:

MITA mengatakan...

baguss ceritanya... :'(
tapi yg cowo mati,,
keinget koizora jadinya...

Dayu Ledys mengatakan...

Inspirasinya dari sono :p

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini