14 Jan 2012

You're Like Devil [1]

Pagi ini masih mendung seperti hari-hari yang lalu. Dan aku juga masih dengan kemalasan yang selalu hadir  seperti hari hari sebelumnya. Malas untuk membuka mataku yang masih mengantuk , malas untuk pergi kesekolah, malas untuk menyimak pelajaran , malas untuk mengerjakan tugas tugas. Dan yang paling membuatku malas untuk hari ini adalah malas untuk bertemu seseorang.
***
Ternyata pagi ini bukan sekedar mendung, tapi juga hujan. Aku terpaksa harus berlari-lari menerobos hujan dihalaman sekolah. Aku berlari tanpa memperhatikan orang orang disekitarku, dan suatu kecelakaan kecil terjadi ketika aku berlari di koridor.
Brukkk …
Aku menengok kesamping, dan hendak meminta maaf. Tapi perminta maafanku aku urungkan saat mengetahui bahwa orang yang aku tabrak adalah orang yang selalu membuat langkahku menjadi berat untuk pergi kesekolah. Namanya Andrian, cowok tinggi ini entah kenapa selalu membuat hari-hari disekolah menjadi sial. Entah apa dosa yang telah aku perbuat sehingga tuhan mengirimkan mahluk ini padaku.
“Masih pagi udah nyari musuh lo ?” Andrian bicara tanpa menatapku sedikitpun. Aku tak menjawab, dan mengepalkan tangan menandakan kemarahan dan kekesalanku.
“Yahh , dianya diem. Lo pasti belum buat PR ya, contek aja PR gue.” Andrian semakin menjadi-jadi.
“Ihhh … Gue udah buat yaaa !” Ucapku dengan nada kesal ditambah ilfeel. Aku kemudian lanjut berlari menuju ruang kelas yang tinggal beberapa meter lagi.
            Aku menaruh tasku dibangku , tepat disebelah tas Andrian. Andrian memang duduk disebelahku semenjak seminggu lalu, ketika dia memutuskan untuk pindah sekolah, dan dengan sikap soknya dia selalu mengganggu hidupku sejak saat itu. Aku melirik sebuah buku tugas yang tergeletak diatas tas andrian. Dan itu adalah buku PR yang dimaksud Andrian tadi. Aku membukanya sedikit, tapi sebelum sempat membaca satu kalimatpun sebuah suara yang sepertinya sangat aku kenal mengaggetkanku.
"Katanya udah buat PR. Tukang bohong lo." Andrian berbicara kepadaku dengan nada mengejek.
Aku hanya menatap Andrian dengan tatapan super kesal. Aku berdiri, lalu berkata dengan serius tepat didepan wajahnya. "Andrian Hartaka Dinata, bisa gak sih lo gak ganggu-ganggu gue kayak gitu? Gue kesel banget tau, bahkan gue udah benci sama lo bahkan sebelum kita pernah ketemu!" Aku berkata dengan sedikit keras. Tapi Andrian malah melempar buku PR-nya ke bangku lalu berlari menuju keluar kelas. Aku terus menatapnya hingga akhirnya ia tak terlihat lagi. 'Rasakan!' pikirku dalam hati.
Pelajaran pertama sudah dimulai, tapi sosok Andrian belum muncul. Aku mulai berpikir 'paling-paling dia malu ketemu gue dikelas, tu anak pasti bolos dikantin.'. Sifat jahilku mulai muncul. Aku membuka tempat pensilnya lalu menukarkan isi pulpennya yang masih penuh dengan isi pulpenku yang sudah kosong. Aku juga meraut pensilnya hingga menjadi sependek jempol. Tidak lupa membocorkan corection pen-nya. 'Yap ! Sempurna.' aku tersenyum licik. Lalu kembali memperhatikan pelajaran pagi itu.
Pelajaran kedua , pelajaran ketiga telah aku lalui. Dan akhirnya hariku disekolah berakhir untuk hari ini. Tapi Andrian belum juga tampak. Aku sudah mencarinya dikantin , bahkan sampai diperpustakaan. Tapi hasilnya nihil. Andrian tidak menampakkan tanda tanda keberadaannya. Aku memutuskan untuk pulang tanpa memikirkan keberadaan Andrian. Aku mengambil tasku,  dan keluar dari kelas. Setelah beberapa meter dari kelas aku balik berlari menuju kelas , berharap menemukan sosok andrian yang mungkin mengendap-endap datang ke kelas dan mengambil tasnya, jika itu benar terjadi, maka aku bisa memergokinya membolos. Tapi betapa sialnya aku yang tidak menemukan seorangpun dikelas, hanya ada tas andrian disana. Aku mulai tidak peduli lagi dan berlari menuju kemobil jemputanku.'Gue gak peduli sama lo, pokoknya gue benci lo.' Batinku serasa ingin berteriak.
***
Aku duduk dikamarku sendirian. Menatap langit sore yang nampak indah dengan garadasi warna merah-orange yang memanjakan mataku lewat jendela kamar. Tiba-tiba sesuatu terlintas dipikiranku.'Tas andrian, apa masih dikelas?'.
Hp-ku tiba-tiba bergetar, dan aku dengan wajah malas mengangkatnya.
'Siapa?' tanyaku singkat dan jelas.
"Gue ... Tau-kan lo ??" Nada bicara yang sok itu terdengar. Rasanya aku ingin membanting HP-ku lalu berlari keluar kamar dan berteriak-teriak. 'Arrrrgghhh, ada setan telpon aku maaa .... paaa ....'
"ya , ada urusan apa ?" Tanyaku singkat dan jelas, kali ini lebih padat.
"Tas gue , udah lo bawa pulang?"
"Gue tinggalin dikelas. Lo ga ad nyuruh gue, dan kalaupun lo nyuruh gue juga gak mau" Aku menjawab dengan ketus.
"Hah ?! Jahat banget sih lo!" Andrian nampaknya panik disebrang sana.
"Jahat ? Elo tuh ANEH !" Aku membentak lalu menutup telpon dengan kesal. Tak habis pikir dengan sikap andrian yang jauh lebih aneh dari biasanya.
Sejak awal aku mengenal Andrian. Dia memang sudah terlihat aneh. Tiap hari dia selalu mengeluarkan satu-persatu sikapnya yang tidak pernah bisa ditebak. Dari mulai sikap dinginnya diawal dia hadir dikelas , lalu dalam satu hari dia bisa akrab dengan semua anak-anak cowok penghuni kelas, dan sifat jahilnya yang muncul tiba-tiba dan tak terduga.
Dan hari ini sifat anehnya yang lain muncul lagi. Dia meninggalkan barang-nya di kelas dengan seenaknya. Dan tiba-tiba menuduhku sebagai teman yang jahat. Entah kenapa aku harus dipertemukan dengan manusia seperti dia. Benar-benar manusia teraneh yang pernah aku temui didunia ini. Dan aku harap hanya dia satu-satunya orang aneh dihidupku. Aku tak bisa bayangkan bagaimana jadinya jika 80% orang yang ada dihidupku juga aneh seperti dia.
[Bersambung ....]

2 lovely comment ♥:

Mrdsekar mengatakan...

ayoo, dilanjutin lagi dong :D

Dayu Ledys mengatakan...

Sabar yaaa , Marda ^^

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini