20 Apr 2012

Story of my wonderful life #1



Entahlah , awalnya aku tak percaya pada cinta pandangan pertama.
Tapi hal itu malah sempat aku rasakan.

 Hari itu , aku rasa akan menjadi hari terburuk sepanjang masa. Mengingat sehari sebelumnya aku sudah merasakan apa yang disebut dengan neraka. Dan sepertinya lebih buruk dari pada harus naik roler coster, dan dikalungi ular berbisa.
Semuanya berawal dari sini ....
Sebelum berangkat ke.sekolah , namun tujuanku kesekolah hari ini bukan untuk belajar, tetapi untuk menerima siksaan dari para senior. Kata mereka ini untuk menguatkan mental tapi kurasa ini untuk merusak mental. Aku berdoa sebelum ibu menyuruhku untuk segera berangkat.
"Tuhan , kuharap ada sesuatu yang membuatku semangat untuk datang saat MOS" 
Apapun itu , aku berharap ada sesuatu yang membuatku mau untuk menjalani semua siksaan itu dengan ikhlas. Misalnya teman baru atau ......... 

Hari masih pagi , matahari belum menampakkan diri. Tapi aku sudah harus menerima bentakan-bentakan tidak berguna dari para senior. Sejauh ini belum ada yang bisa membuatku lebih bersemangat.
Aku tak bisa melihat dengan jelas wajah siapapun, hanya sinar-sinar senter menyilaukan yang disorotkan kearah mata kami dari para senior itu.
Akhirnya matahari mulai menampakkan diri, dan aku bisa mulai mencari sesuatu yang bisa membuatku lebih bersemangat. Mataku mulai melirik ke kiri dan kekanan. Sampai akhirnya mataku tertuju pada seorang pria yang sedang berbicara berbisik dengan temannya. Awalnya aku rasa dia mirip teman lamaku, tapi jika diperhatikan lagi ternyata berbeda. 
Oke, aku tetapkan dia sebagai penyemangatku kali ini. Walaupun usai mos, aku tak bisa bertemu dengannya, tidak apa, setidaknya dia sudah cukup membantuku.

Hari semakin siang, setiap aku merasa lemas. Bahkan ingin menangis, aku melirik kearah pria itu. Dan benar saja, itu membuatku menjadi lebih bertenaga. Bahkan ketika aku melewatkan waktu makan. Jelas saja aku tak bisa memanfaatkan waktu makan siang saat mos. Waktu yang disediakan untuk makan hanya 8menit. Alhasil aku tak berniat untuk makan. 
Semakin hari , aku merasa semakin bersemangat. Karena pria itu mulai sering bicara denganku. Dia juga sangat baik, dia sering mengambilkan tasku. Bahkan dia pernah menanyakan alamat rumahku. Entahlah untuk apa , tapi aku senang.

Hari terakhir mos ditutup dengan acara pentas seni. Dan itu menurutku malam yang sangat menyenangkan. Entah mengapa , semua beban rasanya lepas. Dibawa terbang oleh angin malam yang bertiup pelan dan sejuk. Tapi entah mengapa ada hal yang sedikit mengganjal. Aku memikirkan pria itu lagi. Ini adalah hari terakhir mos, dan itu artinya ini hari terakhir aku melihatnya jika kami tidak sekelas. 
Acara usai , dan aku menunggu ibu menjemputku di sampin gerbang sekolah. Dan ada sesuatu yang lewat dihadapanku. Pria itu lewat. Seperti ingin menampakkan dirinya dihadapanku untuk yang terakhir dalam masa mos ini.
Aku tak mau menyia-nyiakan pandangan mataku, sorot mataku terus mengikuti kearah dia pergi , hingga akhirnya punggungnya tak terlihat lagi.

Akhirnya aku bisa bersantai dikamarku. Melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan jam 12 malam lebih. Dan aku merasa bodoh , kenapa aku tidak pernah menanyakan nomor ponselnya.
Aku tak mengerti mengapa aku merasa sedih, padahal pada awalnya aku hanya menggunakannya sebagai penyemangatku saja. Tapi kini aku malah ingin ia menjadi penyemangatku setiap saat.
Dua hari lagi adalah hari pembagian kelas , dan aku harap tuhan memberikan kejutan yang menggembirakan untukku. Tentu saja yang ada hubungannya dengan pria itu .

[to be continued]

0 lovely comment ♥:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini