20 Jun 2012

Coffee story






Just about coffee in the sweet cafe
If you think of bad thing, just drink it 
-Coffee Story-



 Hanya sebuah cafe kecil dipinggiran kota, dengan pengunjung yang tidak begitu ramai. Pemiliknya seorang pria muda, setiap hari dia ada dibagian kasir. Cafe itu hanya dilengkapi 2 orang pekerja, satu di dapur dan satunya lagi pelayan. Aroma kopi yang tajam selalu menusuk indra penciuman setiap orang yang lewat disana, dan hal itu selalu menggelitik dan seakan memaksa kita untuk masuk.

Jika sudah masuk kesana, kita akan disambut senyuman ramah pemilik cafe, dan deretan berbagai jenis biji kopi dalam toples yang terpajang rapi di sisi tembok. Ada pembuat kopi otomatis, aroma kopi bersumber dari sana. Tapi ada satu hal yang menarik untuk diceritakan dari kafe ini. Gadis remaja yang setiap hari datang kesini , selalu dengan seragam sekolah, masih lengkap dengan sepatu putih dan dasi. Pesanannya tak selalu sama , kadang cappuccino , vanilla late , mocha atau apasaja. Jika hujan tiba ia akan memesan satu cangkir yang hangat , jika sedang panas dia akan pesan ice coffee.
Tidak ada yang menarik memang, tapi jika diperhatikan lagi dia punya banyak cerita yang dapat disimak.

Sesungguhnya gadis itu hanya menunggu hingga pukul 4 sore, tetap duduk disana menyesap kopinya pelan-pelan , marasakan rasa manis dan pahit. Serta menghirup aromanya yang halus namun menusuk. Ia selalu berharap ada seseorang yang menemaninya minum disana. Mengajaknya berbicara.

Pertengahan bulan juni.
Musim dingin kali ini, benar-benar membuatnya malas bepergian. Duduk di kafe menikmati cappuccino hangat, sudah cukup menenangkan. Melihat anak-anak kecil membuat boneka salju dari sini sudah cukup merasakan asiknya menjadi anak-anak itu. Setidaknya dapat membuatnya juga merasa senang, meski kesepian.
Gadis itu masih tetap disana, seperti biasa hingga pukul 4 sore. Memikirkan apapun yang bisa dipikirkan, memperhatikan setiap pengunjung yang masuk, berharap salah satu di antara mereka ada yang mengenalnya. Tapi ternyata tidak.

Hingga akhirnya hari ini.
Salju masih turun, membuatnya bosan dengan warna putih. Tapi ada satu yang membuat warna putih itu berbeda, perasaannya yang tiba-tiba seakan bergetar ketika melihat seorang remaja putra dengan syal coklat dan kemeja berwarna putih. Tinggi. Tampan. Membuatnya tak berhenti merasa kagum. Remaja putra itu masuk ke kafe, sepertinya dia pengunjung baru. Dia memesan Vanilla late. Duduk di sebrang mejanya.

Tidak apa-apa kan? Tak ada tempat kosong lagi.
Gadis itu lalu melihat ke sekelilingnya, dan baru sadar bahwa hari ini kafe sedang ramai pengunjung.
Ah, iya. Silahkan.

Seperti yang ia harapkan sejak lama. Seseorang yang dapat mengajaknya bicara.
Gadis remaja itu ingin memulai, tapi dia bingung tentang topik apa yang harus dia tanyakan. Hobi ? Cita-cita ? Makanan ? Minuman ?. Tapi bukankah pertanyaan seperti itu malah membuatnya terlihat sok kenal. Bagaimana dengan salam perkenalan , seperti hai? halo? Apa kabar?. Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan kata-kata seperti itu. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menunggu hingga pria itu mulai duluan.

Sudah 5 menit, dan untuk pertama kalinya gadis itu merasa ini adalah waktu yang sangat lama. Dan pria dihadapannya hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun.
Hingga akhirnya gadis itu memulai semuanya.
Hei. Kau baru pertama kali kesini?
Meskipun merasa yang bertanya itu bukan dirinya , tapi sisi lain dirinya. Tapi dia merasa lega sudah bertanya.
Kau bertanya padaku ? Ah, iya aku baru pertama kali.
Gadis itu tersenyum demi mendengarkan apa yang dikatakan oleh si pria karena akhirnya dia tau suara pria itu. Suaranya berat. Tapi berakhir kikuk, karena suasana malah menjadi kaku. Dan untungnya pria itu menanyakan sesuatu.
Kau sering kesini ? 
Gadis itu berpikir sebentar, dia harus bilang bahwa ia tiap hari kesini atau berbohong kalau dia tidak terlalu sering datang kesini. Tapi akhirnya ia memilih untuk jujur, sepertinya akan banyak cerita jika ia jujur.
Setiap hari. Makanya aku tau kau pengunjung baru.
Ucap gadis itu bangga, lalu bertanya lagi. Kau suka Vanilla late ?
Lebih suka cappuccino sebenarnya. Aku tak terlalu suka manis, Latte mengandung lebih banyak susu dibanding cappuccino. Sedangkan Cappuccino mengandung lebih banyak busa daripada latte.
Gadis itu termangu. Menurutnya rasa cappuccino dan latte itu sama saja.
Pasti kau menganggap rasanya sama saja. Tapi sebenarnya itu benar-benar beda.
Ujar pria itu sambil terkekeh ringan.
Apa bedanya ? Penasaran. Akhirnya gadis itu bertanya lagi.
Cappuccino dan latte sama-sama terbuat dari espresso dan susu , mungkin itu membuat mereka sama , tapi kandungan susu yang berbeda membuat latte terasa lebih manis. Coba bandingkan rasa cappuccinomu dan latte punyaku.
Gadis itu lalu menyendok latte milik pria itu sedikit, meminumnya. Setelah itu membandingkan rasanya dengan cappuccino miliknya. dan gadis itu mengangguk. Jika diresapi cappuccino memiliki rasa yang halus, manisnya tidak membuat lidah kaget. Sedangkan latte lebih manis dan hampir tak ada busa.
Aku suka moccacino. Diantara semua varietas kopi kau paling suka apa ??
Gadis itu penasaran. Ia merasa kopi yang disukai seorang yang sepertinya tau banyak tentang kopi pasti punya favorit kopi paling enak dari semua varietas kopi.
Kau gadis yang suka manis ternyata. Ujar pria itu sambil tersenyum lembut. Aku suka espresso, racikan dasar tanpa susu ataupun cream. Rasa kopi yang sesungguhnya. Hanya ditambah gula. Sebenarnya rasanya sama seperti kopi tubruk, hanya saja sudah tidak ada ampasnya.
Gadis itu mengangguk mengerti.
Aku pernah mencoba pesan espresso disini, tapi rasa pahitnya sangat tajam. Oya, darimana kau tau aku suka manis? Apa mocca adalah varietas paling manis?
Pria itu merasa senang ditanyai, ia seperti melihat seorang gadis yang penuh semangat dan ingin tau banyak hal.
Rasanya memang seperti itu. Tentu saja aku tau, dan kau benar mocca adalah yang paling manis. Rasa espresso yang terlalu tajam.lah yang membuat moccaccino ada. Banyak yang tidak suka espresso karena rasanya pahit, dan meski sudah ditambah susu rasa pahit itu masih ada espresso akhirnya juga ditambah coklat dan vanilla, sehingga rasanya semakin manis. Campuran espresso, susu, coklat , dan vannila itulah yang disebut moccaccino.

Gadis itu tertawa senang dalam hatinya, berpura-pura tidak mengerti tentang kopi dihadapan pria itu , padahal ia dan pria itu sama-sama maniak kopi. Gadis itu juga tau banyak tentang kopi, tentang kopi robusta dan arabika. Kopi Arabika yang punya rasa lebih menarik dari Robusta. Serta kopi luwak asli indonesia, dia tau banyak. Tapi dia rela pura-pura terlihat seperti gadis yang tak mengerti apa-apa tentang kopi demi mendengar suara pria yang ada didepannya itu lebih sering.

Hari ini gadis itu pulang lebih lambat dari biasanya. Sudah pukul 5 dan sepertinya dia akan kena omel mamanya jika pulang terlambat. Gadis itu akhirnya minta ijin pulang, dan berkata sampai jumpa besok pada pria yang baru ia temui hari ini. Pria itu tersenyum lembut, tidak menjawab , tidak mengangguk, tidak menggeleng, hanya tersenyum. Hingga akhirnya tubuh gadis itu menghilang dari pandangannya.

Esoknya, gadis itu masih tetap seperti hari-hari sebelumnya datang ke kafe, tapi hari ini ia mengawalinya dengan bertanya kepada pemilik toko itu.
Apa anda melihat pria tampan masuk ke kafe hari ini ?
Pemilik toko itu tersenyum, sambil menatap gadis itu lekat-lekat.
Pria yang kemarin duduk bersama nona? Sepertinya belum.

Baiklah, kalau begitu aku pesan 1 espresso dan 1 mocca.
Gadis itu berucap sambil tersenyum gembira, ia sudah tak sabar merundingkan sesuatu mengenai kopi lagi dengan pria itu.
Akan saya antarkan nona, silahkan tunggu dimeja.

Gadis itu masih tetap menunggu. Hingga akhirnya pukul 3, pria itu belum datang juga. Espresso dan mocca-nya sudah mulai dingin. Dan ia sama sekali belum menyentuh kedua minuman itu. Ia tetap bersikeras, berharap pria yang kemarin itu datang lagi. Banyak yang belum sempat ia tanyakan , nama pria itu , nomor ponselnya , alamatnya , dan banyak hal lagi.
Sudah pukul 4, gadis itu akhirnya meninggalkan kafe. Kopinya tak diminum sedikitpun. Ia akan tetap datang kesana, tapi bukan untuk menunggu orang yang bisa diajak bicara, tetapi ia menunggu pria pecinta kopi itu.
Gadis itu sesekali memesan 2 cangkir , berharap tiba-tiba pria itu datang lagi dan ia tidak usah susah-susah memesan kopi lagi.

Sampai kapan-pun , gadis itu tetap berharap. Baginya penantian adalah suatu pengrobanan yang membuahkan hasil, meskipun belum pasti. Tapi ia selalu berharap.

-Coffee Story-

0 lovely comment ♥:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini