18 Jun 2012

Sweet cupcakes



Pernahkah kamu berpikir tentang 'Kehilangan' ?



Gadis itu masih tetap diam disudut sebuah toko kue, tanpa menyentuh cupcake yang sudah ia pesan sekitar 20 menit yang lalu. Mungkin sudah banyak debu yang menempel di cupcake itu, tapi gadis itu masih enggan untuk menyantapnya. Ia tidak lapar.
Hampir setiap hari dia ada disitu, untuk sekedar membaca novel atau memikirkan apapun yang bisa dipikirkan. Tentang ujian sekolah , tentang temannya , tentang pacarnya. Tapi saking seringnya gadis itu berfikir malah membuatnya terjatuh dalam pemikiran pemikiran yang negatif.
Terkadang ia melamun hingga berjam-jam , terkadang ia menangis dengan membenamkan wajahnya di antar lengannya, terkadang juga ia tersenyum penuh arti.
Pelayan toko sudah kenal gadis itu , bahkan dia sudah hapal pesanannya. 1 cupcakes dan secangkir kopi hangat. Gadis itu tidak pernah bosan.

Fhuuuhhh ~
gadis itu menghela nafas untuk kesekian kalinya. Beberapa bulan belakangan ini dia selalu merasa bahwa perasaannya terlalu mudah terluka, bahkan hanya karena kesalah pahaman kecil ia bisa menangis hingga matanya sembab. Belum pernah ia seperti ini sebelumnya. Terlalu egois dan terlalu mementingkan perasaannya sendiri. Ia sadar betapa jahatnya dirinya sekarang.
Ada apa denganku ? aku tak pernah seperti ini sebelumnya. Aku slalu berpikir semua akan baik-baik saja, tapi kali ini aku selalu merasa tidak percaya diri.
Gadis itu menggerutu sendiri sambil mengaduk aduk kopinya yang sudah mulai dingin. Pelayan toko sudah tak kuat melihat kelakuan pelanggan setianya ini, dan akhirnya dia mendekat.
Mau ku ambilkan kopi yang baru nona ? Milikmu pasti sudah dingin.
Gadis itu terpaku melihat sang pelayang yang kali ini sudah berada tepat di depannya. Tapi entah mengapa ada perasaan tenang yang menyergap, dan rasa gelisahnya yang sejak tadi membuatnya selalu berpikir negatif mendadak sirna.
Tidak usah, aku tak membawa uang lagi.
ucap gadis itu singkat, tapi pandangan tak lepas dari mata pelayan.
kali ini gratis nona. Akan saya ambilkan.
Pelayan itu berlalu , dan kembali 5 menit kemudian sambil membawa secangkir kopi yang masih hangat. Aroma kopi yang khas menyeruak seketika, mampu membuat gadis itu merasa tenang.
Saat ini toko sedang sepi, karena itu pelayang dapat memberi perhatian khusus pada pelanggannya yang satu ini.
kau sedang ada masalah ? mau cerita sesuatu.

hhuuuhh, akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh pada diriku, maksudku kondisi mentalku. 
Gadis itu memulai.
Aku mudah sekali merasa terluka, dan kau tau ? awalnya aku suka hujan, tapi sekarang ketika hujan turun bayangan-bayangan buruk seperti menakut-nakutiku. Aku benar-benar bingung.
 Pelayan itu lalu diam sebentar, matanya menerawang jauh lalu menengok ke jalanan dari sebuah kaca jendela besar disamping meja mereka.
Apa yang paling kau takutkan ?
Gadis itu berpikir sebentar. Mengingat semua yang bisa dia ingat tentang hidupnya. Orang tuanya ,adik-adiknya dan pacarnya. 3 hal yang sangat berati dalam hidupnya. Tak ada teman dalam daftarnya, menurutnya 3 hal yang ia anggap berharga itu bisa sekaligus menjadi teman. Teman sebaik apapun mereka sesempurna apapun mereka tak ada yang bisa benar-benar mengerti kita, meskipun sahabat, pasti ada satu bagian kecil yang tidak mereka ketahui.  Lalu ia mengingat satu hal yang membuatnya galau belakangan ini, sesuatu yang membuatnya sadar betapa ia begitu egois. Dan akhirnya gadis itu menjawab dengan suara lirih dan rendah.
Kehilangan.
Pelayan tersenyum lembut , sambil memperbaiki letak kacamatanya. Kacamata itu membuatnya tampak lebih dewasa, dan senyumnya membuat gadis itu terpaku.
Aku juga takut kehilangan. Takut kehilangan pekrjaanku , takut kehilangan pelangganku, takut kehilangan istriku. 
Kata pelayan itu lembut. lalu melanjutkan omongannya.
Kadang rasa takut itu dapat membuat kita tidak percaya diri lagi, seperti yang kau rasakan. Kemampuan berpikir positif kita bahkan seakan tak berfungsi lagi. Semua karena takut yang berlebihan. Hmm, bolehkah aku bercerita sesuatu pada nona ?
Gadis itu mengangguk mantap, sinar matanya menandakan ia begitu penasaran dengan cerita pelayan.
Dulu ketika aku belum menikah dengan istriku, aku selalu takut iya berpaling , dalam arti aku takut kehilangannya. Padahal ia benar-benar sudah meyakinkanku dan ak percaya padanya. Tapi suatu saat aku melihatnya mengobrol dengan pria lain , ini pertama kalinya aku melihat hal itu setelah sekian lama kita bersama , bahkan mereka berfoto bersama. Aku tau itu reuni, tapi hatiku tak terbiasa melihat hal seperti itu, aku merasa cemburu. Akhirnya aku memberitahunya tentang ini , istriku hanya mengangguk dan meyakinkanku kalau pria itu hanya temannya tidak lebih. Tapi aku tetap merasa gelisah. Sejak kejadian itu aku selalu takut jika ia mendapat salam , menerima surat , atau mendapat telpon dari teman prianya. Hingga akhirnya aku melarangnya untuk dekat-dekat dengan pria lain. Aku sadar diriku begitu egois dan hanya memikirkan perasaanku. 
Taukah nona ? Perasaan itu dapat menjadi bukti betapa aku mencintai istriku, hanya saja satu hal yang baru aku sadari mengontrol emosi itu adalah bagian dari rasa cinta dan sayang itu sendiri.
Cerita yang menarik dan membuat gadis itu kembali berpikir tentang apa yang ia rasakan dan alami. Dan ia sadar semua yang diceritakan oleh pelayan benar-benar mirip dengan apa yang ia alami.
Aku juga mengalaminya. Ketakutan yang berlebihan. Aku egois.
Pelayan lalu mengangguk, dan berbicara pelan.
Makan cupcakesmu , dan minum sedikit kopimu. Berlarilah dan bilang pada orang itu, aku percaya padamu.
Gadis itu menggigit sedikit cupcakesnya dan menyesap kopinya, mengatakan terima kasih pada pelayan, mengusap matanya yang tadi sempat ber-air , dan berlari dengan tujuan lapangan basket sekolah.

Disana duduk seorang remaja putra, dengan sebotol air ditangannya. Dia sendirian , sepertinya temannya yang lain sudah pulang.
Heii, tidak biasanya kau datang. Kau terlihat cantik tanpa seragam.
pria itu memuji dan membuat pipi gadis itu bersemu merah.
Aku kesini hanya untuk mengatakan satu hal.
Pria yang masih duduk dilapangan dan tampak kelelahan setalah latihan itu , tampak bingung. Lalu menatap mata si gadis lekat-lekat.
Aku percaya padamu.

Suasana menjadi hening sesaat, angin sore berhembus pelan menerpa wajah yang gugup.
Aku juga.

Sesungguhnya kehilangan itu adalah bagian dari hidup, dan kepercayaan adalah bagian dari hidup juga. Bagaimana manusia dapat merasakan rasa takut kehilangan yang berlebihan dan itu membutuhkan kepercayaan yang lebih.
Mereka yang sering merasa takut kehilangan, adalah bukan mereka yang egois tapi mereka yang punya cinta terlalu besar.
 -sweet cupcakes-

2 lovely comment ♥:

Gustu Oka mengatakan...

"cinta terlalu besar"
i love this sentence :*

Dayu Ledys mengatakan...

me too :*

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini