27 Mei 2015

Growing Pains (Heri)



Heri rebah di atas rumput taman belakang rumahnya.
Sore itu mendung, semendung hatinya. Ia menutup matanya dengan satu tangan, mencoba menahan tangis. Tangan satunya memegang sesuatu. Sebuah gelang tali yang dijalin. Hatinya nyeri.
Hujan akhirnya turun. Namun heri tak berkutik, ia tetap rebah disana. Perlahan ia menarik tangannya yang menghalangi mata, kemudian perlahan melihat dunia. Ia mengangkat gelang tali yang ia pegang tinggi-tinggi, membiarkan gelang itu semakin basah terkena hujan. Hati heri berdebar kencang, ia marah. Dengan segenap tenaga, ia melempar jauh gelang itu.
***
     Gadis itu begitu cantik, Heri tak menyangka gadis itu menerima cintanya.
Saat itu hari pertama sekolah setalah libur akhir semester, dan Heri bertekad untuk mengungkapkan perasaannya.
“Boleh minta waktu sebentar?” ucap Heri dengan begitu gugup kala itu.
Gadis itu mengangguk, dan membiarkan tangan mungilnya ditarik Heri.
Mereka tiba di kursi kayu di bawah pohon maple besar. Tanpa membuang waktu, Heri mengeluarkan sebuah gelang tali berwarna coklat yang ia jalin sendiri di rumah. Ia menatap mata gadis itu sekilas, dirinya tampak bingung.
“Jadi gini, gue suka sama lo, lo mau jadi pacar gue?” Heri menarik napas, “Gue tau lo ga sanggup jawab karna lo kaget, jadi lo bisa ambil gelang ini kalo lo nerima gue, atau lo boleh ….” Heri meraba sakunya, “atau lo ambil permen ini kalo lo nolak gue.”
Gadis itu diam beberapa saat, sampai akhirnya ia buka suara, “Her …”
Heri mengangkat wajahnya, sesungguhnya dia hanya siap diterima tanpa mempersiapkan mental untuk segala sesuatu yang terburuk.
“Gue …”
Oh ayo dong, jangan lama-lama. Pikir Heri.
Tangannya mulai gemetar, rasanya ia ingin pipis di celana. Memalukan.
Tangan gadis itu mulai bergerak. Dia bergerak ke tengah bukan ke bagian kiri atau kanannya. Heri berdoa dalam hati, ia berharap gadis itu mengambil gelang yang sudah dibuatnya semalaman. Itu, atau ia berjanji akan membakar gelangnya sepulang sekolah.
Deg!
Jantung Heri seakan mau copot. Sorot matanya berubah redup. Ia ingin segera lari, dan berkata “anggap gue nggak pernah bilang suka ke lo,”. Tapi kenyataannya hanya, dirinya yang terpaku menatap permen yang di ambil gadis itu.
“lo gapapa kan her?” Tanya gadis itu.
“Ga … gapapa ? Ya gapapalah, hahaha,” tawa paling hambar sedunia.
“Maksud gue, gapapa kan kalo gue makan permen ini terus gue ambil gelangnya juga?” gadis itu tersenyum jahil.
“Maksud lo ? lo nerima gue?” Senyum Heri mendadak mengembang.
Gadis itu sibuk memasang gelangnya tanpa menjawab pertanyaan Heri.
“Ini gimana ngiketnya sih?” Tanya gadis itu sambil mengutak-atik gelang Heri.
Heri hanya bisa tersenyum lebar tanpa bisa menghentikannya. Ia menarik tangan gadis itu lalu memasangkan gelangnya.
“Thanks,” kata Heri pelan.
***
Gadis itu rupanya sudah melupakan Heri kini.
Sudah 2 bulan mereka putus. Gadis itu memang masih sendiri, begitu juga Heri. Namun gadis itu terlihat tak ingin mengenal Heri lagi.
Heri masih menyimpan gelang tali itu di sakunya. Ia membawa gelang itu kemana-mana entah untuk apa. Namun hari ini entah ada angin apa, Heri berpapasan dengan gadis itu. Heri spontan menghentikan langkahnya setelah gadis itu lewat di sebelahnya. Matanya terasa panas. Jantungnya tak bisa berdetak lambat. Ia merindukan gadis itu, tangan mungilnya, matanya yang tampak menggoda, dan bibirnya yang merah ceri dan lembut.
Heri menoleh ke belakang, memperhatikan punggung gadis itu yang berjalan menjauh.
Lo bahkan gak mencoba berhenti atau noleh ke gue. Batin Heri. Gue yakin lo mengatasinya dengan baik.

***
Satu tahun pacaran, Heri sadar hubungan mereka tak sebaik dulu. Pertengkaran sudah jadi santapan sehari-hari. Entah karena hal kecil, atau salah paham.
“Kamu tuh, bisa gak sih kalo pergi sama temen kamu yang cowok aja, aku tuh ga suka sama cewek-cewek itu!”
“Mereka cuman temen aku, nggak lebih,” ucap Heri.
“Iya, tapi aku ga suka!”
“Kamu percaya aku ga sih?”
“Aku percaya kamu! Tapi aku gak percaya mereka,”
Heri berdiri, lalu meninggalkan kekasihnya itu sendirian di kursi kayu di bawah pohon maple. Hal ini mungkin bukan yang pertama kali. Gadisnya tampak lelah.

Heri tak pernah tahu apa yang terjadi setelah ia meninggalkan kekasihnya duduk disana. Ego Heri terlalu tinggi. Hari itu ia berniat meminta maaf dan menunggu kekasihnya di bawah pohon maple seperti biasa. Dan Heri rupanya tak perlu susah susah menunggu.
“Hai her,” ucap gadis itu lemah.
“Mata kamu kenapa?” Heri mengusap pelan mata kekasihnya.
“Gapapa, Cuma kurang tidur aja kok, oya boleh bilang sesuatu?”
“Boleh, mau bilang apa?”
“Sori her, aku ngerasa capek banget 6 bulan belakangan ini,”
Heri menahan napasnya 3 detik, “Maksudnya ?”
“Iya, aku capek ngadepin kamu yang egois, coba kamu pikirin, pernah kamu yang nunggu aku disini? Selalu aku, dan sekalinya aku dateng telat kamu udah bete bukan main. Belakangan ini kita sering ribut kan? Karena apa ? Kamu ga pernah dengerin aku, aku bilang jauhin cewek-cewek itu. Aku tahu kamu sembunyiin sesuatu dari aku kan Her?
“Aku tau semuanya, padahal kalau kamu jujur aku ga bakal semarah ini, cewek-cewek itu yang menang Her, maaf aku terlalu lemah,”
“Oke, aku minta maaf, bisa kan kita baikan lagi.”
Gadis itu merogoh sakunya. Ya, Heri akhirnya sadar kekasihnya tak memakai gelang tali itu lagi.
“Aku selalu maafin kamu, tapi kalo kamu ulangin terus aku ga tahan,” gadis itu mengambil tangan heri, membukanya, menaruh gelang tali itu, lalu menutupnya kembali.
“Makasih Her, lo cinta pertama gue, dan selamanya akan tetap begitu.”
Gadis itu berbalik pergi, meninggalkan Heri yang duduk terpaku sambil menggenggam gelang tali itu erat.
***
Hujan semakin deras. Heri tak kuat lagi menahan nyeri di hatinya.
Sudah dua bulan memang, tapi luka di hatinya sepertinya semakin menganga. Belum lagi gadis itu seperti tak mengenal dirinya lagi.
Heri tau, gadis itu bisa mengatasi perpisahan itu lebih baik dari dirinya. Heri sadar, gadisnya memang jauh lebih sakit hati, mengingat seberapa sering ia membuat gadisnya menangis saat ia masih memilikinya.
Heri menyesal untuk tidak mendengar apa yang gadisnya katakan, Heri menyesal untuk segala sifat cueknya, untuk segala kata maaf yang tak tulus dari mulutnya, untuk berliter-liter air mata yang gadisnya keluarkan hanya karena dirinya.
Jauh dilubuk hatinya Heri membenarkan apa yang gadisnya lakukan, dirinya memang sepantasnya di buang. Laki-laki brengsek yang tak tau diri. Begitu ia mulai menyebut dirinya.

Heri masih terbaring di atas rumput halaman belakang rumahnya. Rintik hujan seakan tak lelah mengguyurnya. Bagaikan air mata gadisnya yang sedikitpun tak pernah ia hapus. Heri menutup matanya dengan kedua tangan, kemudian menekan kepalanya kuat-kuat.
“Aaaaaaaaaaaaagggghhhhhhh !!!!!”
Ia berteriak kencang sambil meringis, kemudian mencabik kasar rumput di sekitarnya.

Ia merasa setengah dirinya menghilang.




*Haiiii !!!
Makasih buat yang udah baca cerita aku, kalian bisa baca cerita lainnya di tag cerpen yah!
Jangan lupa buat share, jangan lupa comment juga di bawah. Karena share dan comment dari kalian bikin aku semangat untuk terus menulis dan berkarya. Jangan lupa buat follow blog ini juga ya! Thankyou ^^

0 lovely comment ♥:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini