15 Mei 2015

Jatuh Cinta atau Cinta ?



Kamu merasa berbeda melihat seseorang, karena dia baik, dia tampan, dia selalu dapat membuatmu tertawa, selalu membuatmu tersenyum. Bahagia.
Itu berarti kamu menyukainya.
Terlalu cepat kalau kamu menganggap itu cinta.

Bagaimana dengan seseorang yang bisa berubah drastis karena jatuh cinta?
Aku bisa menyebutnya jatuh cinta, karena memang jatuh cinta dapat membuatmu berubah menjadi orang lain.
Contohnya PDKT. Waktu kamu kerjaannya modusin gebetanmu setiap hari, melakukan banyak hal romantis. Percayalah itu bukan kamu. Itu dirimu yang lain, bagian dari dirimu yang muncul ketika awal-awal kamu jatuh cinta. Jatuh cinta, jatuh hanya sekali.
Kemudian yang kau rasa adalah cinta. Bukan jatuh cinta lagi.

Seseorang pernah bilang, “aku merasa seperti jatuh cinta untuk kesekian kalinya setiap aku melihatnya”
Adakah? Jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama.
Aku memikirkan ini berkali-kali. Aku membayangkan bagaimana aku ketika pertama kali melihatnya, tersenyum tanpa alasan. Masihkah aku tersenyum tanpa alasan saat melihatnya sekarang? (ngomong-ngomong ini setelah hampir 4 tahun)

Ini jawabannya :
Siang di akhir desember 2014. Seperti beberapa siang sebelumnya ada dia disampingku. Siang itu aku membantunya mengerjakan tugas kuliah. Aku selalu merasa senang jika membantunya. Aku ingin jadi orang yang bukan hanya dia ingin, tapi juga dia butuh. Aku melihatnya untuk yang ke ribuan kali, rasanya memang nggak sama dengan saat pertama aku melihatnya. Detak jantungku teratur, tak lagi berdetak kencang seakan ingin meledak, matakupun tidak berbinar. Tapi satu hal yang tidak pernah hilang, senyumku. Dia mungkin tidak seromantis ketika pdkt dulu, bukan lagi seseorang yang sesuai dengan khayalan, bukan lagi jenis cowok yang masuk kategori cowok paling persis dengan tokoh novel versiku. Aku tersenyum karena aku melihatnya. Sesederhana itu.
Tuhan masih mempercayakan aku untuk ada disampingnya. Tuhan percaya aku bisa, makanya ia membiarkan ku bertahan meski badai telah berkali-kali menghancurkanku. Tapi seperti robot, aku merakit kembali diriku yang hancur itu.

Jadi apa kesimpulannya? Apakah jika aku masih tetap tersenyum saat melihatnya meski sudah ribuan kali aku melihatnya bisa disebut jatuh cinta lagi?
Entahlah.
Yang jelas saat melihat wajah seriusnya yang sedang mengerjakan tugas itu aku merasa bersyukur. Bersyukur bahwa sampai detik ini aku masih memilikinya. Dan aku menginginkan itu selamanya.

Itu baru jatuh cinta.
Bagaimana dengan cinta?

Pernah mikirin kenapa playboy bisa jadi playboy?
Saat dia jatuh cinta dia sama sekali tidak berniat untuk menjadi player. Dia berjuang untuk mendapat orang yang dia suka. (Aku sebut suka, bukan cinta)
Sama seperti orang-orang yang bukan playboy. Bedanya seorang playboy, ketika ia berhasil mencapai tujuannya (mendapatkan hati wanita pujaannya) ia akan kehilangan selera.
Jadi apa yang dia rasakan pada awalnya? Cinta?
Bukan cinta, tapi suka. Meskipun dia tidak berniat menjadi pemain tapi tanpa sadar dari awal dia memang sudah memulai gamenya.

Lalu apa itu cinta?

Ini jawabannya :
Cinta bagiku adalah sebentuk emosi. Dulu sekali, dia pernah bertanya padaku kenapa aku mencintainya? Aku menjawab dengan jawaban standar seperti “karena kamu baik, perhatian, romantis, tampan.” Betapa sempurnanya.
Seiring waktu berlalu, kami sama-sama berubah, entah karena faktor apa. Dia masih tetap perhatian, masih tampan, masih baik, hanya saja berbeda.
Daripada berubah, sekarang aku lebih suka menyebutnya tumbuh bersama. Kita tumbuh, karena itu kita berubah.
Aku telah melewati banyak rasa sakit, diapun mulai sering membuatku kesal, membuatku sedih, membuatku menangis. Meski sudah hancur berkali-kali, aku masih tetap tidak ingin pergi. Aku tetap tinggal.
Akhirnya aku tau apa itu cinta sebenarnya. Untuk mencintai seseorang kamu memang ga perlu alasan apa-apa. Percayalah, jika kau telah dihancurkan berkali-kali, tapi senyummu saat melihatnya tak pernah pudar, itu artinya kau cinta.
Dia menyebalkan, tapi masih saja jadi satu-satunya yang ditunggu. Genggaman tangannya selalu terasa hangat apalagi pelukannya.

Sekarang jika ada yang bertanya kenapa aku mencintainya? Kenapa aku sayang padanya, aku lebih memilih untuk menjawab, tidak ada alasan. Cinta ga butuh alasan.
Biarkanlah aku tidak menemukan alasannya. Aku tidak mau seperti playboy, karena setelah dia menemukan tujuannya maka ia akan hilang selera.

“Kau sadar, kau mencintainya tanpa alasan. Biarkanlah tetap begitu. Karena saat kau tau alasan kenapa kau mencintainya, mungkin pada titik itulah kau tidak lagi mencintainya.”

Benarkah semua hal yang kutulis ini?
Entahlah. Mari kita belajar sama-sama. 
-dys-

0 lovely comment ♥:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini