15 Mei 2015

Overthinking




When overthinking come to you, that’s will kill you.
Maybe, ini akan terjadi jika kau, aku, dan kawanmu pergi, dan disana ada sepupumu, sebut saja namanya Mawar.

Kau tau?
Aku sadar bahwa diriku posesif dan bagian terburuknya adalah terlalu banyak berpikir. Tapi percayalah, tak jarang perkiraanku benar.
Saat itu aku melihat-lihat isi ponselmu, aku tak memeriksa pesan ataupun chat, percayalah aku membenci hal itu, aku takut. Aku hanya melihat galerimu dan itu sudah cukup.
Saat itu kita sedang dalam perjalanan yang menyenangkan, tapi hatiku tak berhenti bertanya-tanya. Akhirnya, sambil menahan getar tubuhku yang aneh, aku menggodamu.
“Kamu mah gitu, kok ada cewek yang ikut sih,”


Kau hanya tertawa ringan seraya berkata, “Itu sepupu aku, kamu ini.”
“Ups sori,” kataku sambil berusaha nampak ceria kembali, tapi tidakkah kau lihat mataku lebih dalam, disudutnya agak basah.
Sebelumnya, aku sempat melihat foto gadis yang dulu sempat mengusik kita ketika SMA, mengapa ada dia di ponselmu? Ah, mungkin tak sengaja kau simpan. Ya sudah, aku hapus tanpa kau mengetahuinya.

Entah kenapa, aku merasa tak akan cocok dengan sepupumu, dan ternyata kau bilang ia seumuran denganmu, beda beberapa bulan saja. Percayalah, jika kau di posisiku kau pun pasti was-was, meski kau tau itu adalah keluarga.
Aku tak berani bertanya padamu saat itu. Aku hanya tak ingin merusak perjalanan yang menyenangkan ini. Jika kau lebih memperhatikanku, kau akan menyadari bahwa aku tak banyak bicara saat perjalanan. Tapi percayalah, aku menahan rasa penasaranku dengan sekuat tenaga, aku tak ingin merusak perjalanan yang sudah lama kunantikan ini.

Huaahhhh,
Lelah sekali rasanya, untungnya ketika sampai tujuan aku bisa melupakan perasaan gelisahku sejenak. Aku pulang dengan berbekal ciuman “see you soon” darimu. Terima kasih untuk hari ini, aku tak sabar untuk perjalanan selanjutnya, dan kuharap kita bisa pergi hanya berdua.

***
Lampu kamarku bersinar remang, sepertinya sudah harus diganti.
Aku menggigit bibirku perlahan saat ingin mengetik sesuatu di kotak chat, aku mengetik lalu menghapusnya berkali-kali. Oh Tuhan, aku tak mau merusak hari ini, tapi aku begitu penasaran. Aku dilanda overthinking yang begitu hebat malam itu. Begitu susah mengetik satu kata, hingga aku harus menghapusnya lagi lagi dan lagi.
Lebih baik tak kurusak hari ini, moodmu harus tetap baik sampai hari ini berakhir. Aku hanya ingin kau tak melupakan perjalanan pertama kita, dan merencanakan perjalanan selanjutnya. Aku siap dibawa kemana saja olehmu.

***
Malam selanjutnya, aku tak tahan lagi. Overthinking yang melandaku semakin menggrogoti pikiranku yang rapuh. Aku tak bisa menahannya lagi. Demi Tuhan.
Tubuhku bergetar hebat, entahlah, tapi itu selalu melandaku setiap aku merasa tidak enak hati, galau, marah, kecewa dan segala hal negative lainnya.
Aku pikir lebih baik aku mengawalinya dengan sebuah permintaan sederhana.

            “Bolehkah aku ikut pergi bersamamu dan teman-temanmu, aku ingin mengenal mereka,”

Send.
Aku menahan nafas.

            “Tentu saja sayangku, jika sepupuku ikut aku akan mengajakmu juga, agar kau tidak perempuan sendirian,”

Demi Tuhan, itu bukan jawaban yang kuharapkan.
Aku mulai mengetik lagi, kali ini dengan kepala berat dan rasa mual. Aku gugup sekali, aku menjaga tiap ucapanku agar tak membuatmu marah karna aku terlalu cemburuan, padahal itu kan sepupumu.

            “Tidak, aku sendiri perempuan pun tak apa, aku hanya tak yakin bisa nyambung dengan sepupumu,
            Hmmm, apakah dia tidak punya pacar?”

Oke, aku lepas control. Tapi tombol send sudah ku sentuh.

            “Dia punya.”

            “Lalu, apa pacarnya tidak cemburu, aku yakin jika kau diposisi pacarnya, kau sendiri pasti was-was,”

            “Tentu sayang, tapi aku yakin kau tak begitu, kau dan dia berbeda, begitu juga aku dan pacar sepupuku itu,”

Aku diam menatap layar ponselku, berusaha memikirkan kata-kata apa yang harus ku tulis agar kau mengerti maksudku. Aku begitu hati-hati, aku tak ingin kita bertengkar, dan kau kecewa dengan sikapku yang tak dewasa ini. Percayalah, dalam hal lain, aku tak sekanak-kanakan ini.

            “Maafkan aku, aku tak bermaksud begitu banyak bertanya, sesungguhnya aku tak begitu peduli tentang bagaimana hidup orang lain, hanya saja jika sudah ada sangkut pautnya denganmu, aku tak bisa diam saja,”

            “Tidak apa, aku senang kau peduli denganku. Kau tenang saja ya, dia jarang ikut pergi dengan kami,”

Sejenak aku merasa lega, hanya saja hari sudah semakin malam, dan besok kau harus bangun begitu pagi. Jadi kau pamit tidur, dan memintaku untuk tak tidur terlalu larut.

***

            Apakah aku cukup lega ? Rupanya tidak.
See, overthinking will kill you slowly. Like I did.
            Bagaimana dia bisa ikut denganmu ? Apa kau sering kontak dengannya? Mengapa kau mengajaknya? Mengapa bukan aku saja? Kenapa ? Kenapa?
Mengapa ? bagaimana bisa? Sedekat apa?  Demi tuhan, aku tak tahan lagi dengan keadaan ini, bisakah otakku ini berhenti? Aku kekasihmu, mengapa malah dia duluan yang mengenal sahabat-sahabat dekatmu?
Aku hanya ingin jadi yang pertama dibandingkan orang lain, aku yakin itu lah yang diinginkan semua wanita dibelahan dunia manapun.
Aku dilema, aku cemburu tapi, pantaskah? Dia sepupumu, keluargamu.
Ya tuhan bisakah pikiranku ini diam? Rasanya ribut sekali.

Pikiranku terus mengeluarkan ribuan pertanyaan. Dan akhirnya berhenti di satu titik.

            “Akankah kau menjaga jaraknya dengannya, mendekatlah padaku sayang, percayalah padaku, aku hanya tak ingin kau berubah karena orang lain. Aku yakin kau mengerti apa yang aku rasakan. Cukup bayangkan dirimu ada di posisiku ini saja.”
            “Aku tak ingin ini berlanjut terus, sampai akhirnya sepupumu itu putus dengan kekasihnya, kemudian dia terus-terusan mencarimu dan mengajakmu jalan. Bagaimana denganku?”
            “Bisakah kau hentikan saja? Sebelum yang terjadi melebihi batasnya?”
            “Tetaplah berhubungan layaknya keluarga? Biarkan ia jalan dengan kekasihnya, dan kau denganku, biarlah kita tetap dalam hidup yang berbeda , dia dengan kekasihnya dan teman-temannya.”
            “Dan biarkan aku bergabung denganmu dan teman-temanmu, aku ingin jadi bagian dari kalian, kumohon jangan asingkan aku.”

 Oh pikiranku, bisakah kau berhenti ?!



*Entahlah, rasanya nyeri sekali ketika aku menuliskan bagian yang bercetak tebal di atas.

2 lovely comment ♥:

dita amalia mengatakan...

overthinking... :)
aku juga pernah ngerasa kaya begitu. dan parahnya, yang lebih tau tentang si doi bukan sepupunya. melainkan perempuan yang pernah dia suka. sedih memang. (duh maaf ya jadi curhat. baper abisnya baca ceritanya. bagus:) )

Dayu Ledys mengatakan...

Makasi udah baca ditaa ^^
kalo itu pasti lebih sakit lagi yaa :(
tapi kamu masih sama si doi kan ???
Jgn terhalang parasit dita ('.')9

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini